Pencarian

Senin, 12 Oktober 2015

Wanita

WANITA YANG CANTIK ITU...

.
WANITA yang Cantik Kulitnya, akan Takut Terbakar Panas Matahari,,
Sedangkan,
WANITA yang Cantik Akhlaknya akan Takut Terbakar Api Neraka..
.
WANITA yang Cantik Wajahnya akan Berseri- seri Menikmati Duniawi,,
Sedangkan,
WANITA yang Cantik Hatinya akan Tunduk, Patuh dan Takut pada Illahi.
.
WANITA yang Cantik Dirinya, akan Menangis jika Dunia pergi Darinya,,
Sedangkan,
WANITA yang Cantik Jiwanya akan tercukupi Hidupnya dengan Aqidahnya..
.
WANITA yang Cantik Hidupnya akan Bangga dengan Kemewahaannya,,
Sedangkan,
WANITA yang Cantik akhiratnya akan Berpuasa dan Bersedekah dengan Hartanya..
.
Dan WANITA yang Cantik Zamannya, akan mengikuti Akal, Nafsu dan Segala kehendaknya,,
Sedangkan,
WANITA yang Cantik Waktunya, akan menemukan Hikmah, Ilmu dan Segala Amal Soleh untuknya.. (copas)

Minggu, 11 Oktober 2015

Benci dunia

💰💪🏽📦 APA YANG SUDAH KITA SIAPKAN ?

✒Ust. Syafiq Riza Basalamah MA حفظه الله تعالى

Akhi/Ukhti…

🌴Kenapa kita takut untuk menghadapi kematian ?
Padahal kita semua yakin bahwa suatu hari ia akan datang menjemput kita
Mau tidak mau, suka tidak suka… pasti !
Kenapa kita takut untuk menghadapi sesuatu yang pasti ?

🌴Saya rasa semua memiliki jawaban yang bermacam-macam:

Amalnya masih kurang ?
Masih banyak dosa ?
Kesihan sama anak-anak ?
Belum menikah ?
Belum mencapai cita-cita ?

🌴Pada suatu hari seorang tabi’in Abu Hazim Salamah bin Dinar ditanya oleh Khalifah pada masa itu: Sulaiman bin Abdil Malik.

يا أبا حازم ما لنا نكره الموت؟

قال: لأنكم عمرتم دنياكم وخربتم آخرتكم فأنتم تكرهون أن تنتقلوا من العمران إلى الخراب؟

“Wahai Aba Hazim, kenapa kita membenci kematian ?
Maka beliau berkata, “Karena kalian memakmurkan dunia kalian dan merusak akhirat kalian, sehingga kalian benci untuk berpindah dari tempat yang makmur ke tempat yang rusak dan terbengkalai”.

SubhanAllah!

🌴Itulah realitanya….
Kita sibuk-sibuk untuk membangun dunia kita
Dari pagi sampai sore, sampai malam untuk dunia
Mau tidurpun masih dunia
Bangun tidur tetap dunia…

🌴Sehingga kita memiliki rumah, mobil, keluarga dan tabungan yang banyak

🌴Sedangkan untuk yang setelah kematian…
Hanya sedikit dari harta kita…sedikit sekali dibanding dengan yang kita simpan
Dilihat dari waktu yang kita gunakan untuk membangun akhirat kita
Sangat sedikit sekali, dibanding dengan waktu kita untuk dunia kita…

💫Kalau seperti itu…

🌴Pastilah kita takut, untuk berpindah ke rumah yang belum jadi
Tiada taman
Tiada kawan
Tiada makanan
Bahkan yang ada adalah azab dan siksa

🌴Karena kita mencuekinnya…
Tidak merawatnya
Tidak membangunnya

🌴Sepertinya, kita sudah harus mulai merenung kembali kehidupan kita.

✒Repost
📚Mari Belajar Islam
www.maribelajarislam.com
📚Admin

****

Repost by :
👥 SOBAT MUSLIM, Grup Sharing Kajian Islam Khusus Ikhwan (Laki-laki)
📱 Admin: +62 853-1028-3995 (Daftar via WhatsApp, Ketik: Daftar#Nama#Kota Domisili)

Memuja dunia

Terkadang kita cemburu (iri) terhadap orang yg mengungguli kita dalam perkara nasab (keturunan), harta atau ketenaran.. Akan tetapi kita tidak cemburu (iri) apabila kita diungguli di dalam shoff (barisan) yg terdepan dalam sholat atau hafalan Al-Qur'an..
Itu adalah bentuk memuja dunia dan lupa terhadap akhirat..

Senin, 05 Oktober 2015

Menutupi aib

Kalaulah Bukan Karena Allah Menutupi Aib-Aib kita
........
Alhamdulillah, wash shalaatu wassalaamu ‘ala nabiyyinaa Muhammad, wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa man tabi’ahum bi ihsaan, wa ba’d .
Pada zaman Nabi Musa ‘alaihis salam, bani Israel ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka. Mereka berkata, “Ya Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami.” Maka berangkatlah Musa ‘alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh penuh debu, haus dan lapar.
Nabi Musa berdoa, “Ilaahi! Asqinaa ghaitsak…. Wansyur ‘alaina rahmatak… warhamnaa bil athfaal ar rudhdha’… wal bahaaim ar rutta’… wal masyaayikh ar rukka’…..”
Setelah itu langit tetap saja terang benderang… matahari pun bersinar makin kemilau… (maksudnya segumpal awan pun tak jua muncul).
Kemudian Nabi Musa berdoa lagi,
“Ilaahi … asqinaa….”
Allah pun berfirman kepada Musa,
“Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian…”
Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang
bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun… keluarlah ke hadapan kami…. karena engkaulah hujan tak kunjung turun…”
Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri… maka tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia… saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud…..
Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku… Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun.”
Maka hatinya pun gundah gulana… air matanya pun menetes….. menyesali perbuatan maksiatnya… sambil berkata lirih, “Ya Allah… Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun… selama itu pula Engkau menutupi ‘aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatku…”
Tak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun bermunculan… semakin lama semakin tebal menghitam… dan akhirnya turunlah hujan.
Musa pun keheranan, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia.” Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun.”
Musa berkata, “Ya Allah… Tunjukkan padaku hamba yang taat itu.”
Allah berfirman, “Ya Musa, Aku tidak membuka ‘aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka ‘aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!”
(Kisah ini dikutip dari buku berjudul
“Fii Bathni al-Huut” oleh Syaikh DR. Muhammad Al ‘Ariifi, hal. 42)
Subhaanallah… Kalaulah bukan karena Allah menutupi aib-aib kita…
***
Penulis: Abu Yazid T. Muhammad Nurdin
Artikel www.muslim.or.id

Senin, 28 September 2015

Kisah berjalan ke makkah

✏✏...MANA PENGORBANANMU!

✒[Kisah Motivatif, Ditulis dengan Tinta Air Mata]

🌴Adalah Syaikh Utsman Dabu –semoga Allah merahmati beliau- berasal dari Republik Gambia, ujung Barat Afrika. Beliau tinggal di rumah sederhana pada suatu desa kecil dekat ibukota Banjul.

Syaikh Utsman menceritakan perjalanannya bersama empat kawannya lima puluh tahun yang lalu ketika menuju Baitullah dengan berjalan kaki dari Banjul menuju Makkah. Mereka berlima meretas benua Afrika dari Barat hingga Timur tanpa berkendaraan, kecuali pada waktu-waktu singkat yang mereka mengendarai hewan hingga mereka tiba di Laut Merah guna menyeberang menuju Jeddah.

Suatu perjalanan penuh keajaiban yang berlangsung selama dua tahun. Kadang mereka singgah di sebagian kota untuk istirahat, bekerja, dan berbekal, kemudian melanjutkan perjalanan.

Beliau ditanya, “Bukankah haji ke Baitullah diwajibkan atas orang yang mampu, sedangkan Kalian dalam keadaan tidak memiliki kemampuan?”
Beliau menjawab, “Benar. Namun, pada suatu hari, Kami saling berbicara tentang kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm ketika beliau berangkat membawa keluarganya ke lembah yang tidak bertanaman di sisi Baitullah yang terhormat. Salah seorang di antara Kami berkata, ‘Kita sekarang adalah para pemuda yang kuat lagi sehat. Oleh karena itu, apakah udzur Kami di sisi Allah jika Kami kurang dalam menempuh perjalanan ke Baitullah. Apalagi Kami merasa bahwa hari-hari yang bergulir hanya menambah kelemahan. Maka, untuk apa diakhirkan?’ Kawan itu pun memicu dan memotivasi Kami untuk menempuh perjalanan dengan mengharapkan pertolongan dari Allah.”

Keluarlah mereka berlima meninggalkan rumah-rumah mereka dengan perbekalan yang tidak mencukupi lebih dari satu pekan. Di perjalanan mereka, ada berbagai kesulitan, kesempitan, dan kesesakan yang hanya diketahui oleh Allah. Betapa banyak malam yang mereka lalui dengan lapar yang hampir membinasakan mereka. Tak terbilang malam yang mereka harus meninggalkan kenikmatan tidur lantaran kejaran binatang buas. Sering berulang malam yang berliput ketakutan akan para penyamun yang menghadang di berbagai lembah.

رُبَّ لَيْلٍ بَكَيْتُ مِنْهُ فَمَا
صِرْتُ فِي غَيْرِهِ بَكَيْتُ عَلَيْهِ
Betapa banyak malam yang telah kutangisi
Tatkala Kupindah ke malam (lain), kembali aku menangisinya

Syaikh Utsman berkata,
“Suatu malam, Saya tersengat oleh (binatang berbisa) di tengah perjalanan. Maka, Saya pun ditimpa oleh panas hebat dan rasa pedih dahsyat yang membuatku terduduk dan tidak bisa tidur. Saya telah mecium bau kematian berjalan di urat-uratku,

وَإِنِّي لَأَرْعَى النَّجْمَ حَتَّى كَأَنَّنِيْ
عَلَى كُلِّ نَجْمٍ فِي السَّمَاءِ رَقِيبُ
Sungguh Saya terus mencermati bintang-bintang itu, hingga seakan …
Saya adalah pengawas setiap bintang di langit

Kawan-kawanku pergi bekerja, sementara saya hanya berteduh di bawah pohon hingga mereka kembali di penghujung siang. Syaithan terus memberi was-was ke dalam hatiku, “Bukankah seharusnya Engkau tetap tinggal di negerimu? Mengapa Engkau membebani dirimu dengan hal yang Engkau tak mampu saja?”

Jiwaku menjadi berat dan hampir Saya melemah hingga kawan-kawanku datang. Salah seorang di antara mereka melihat ke wajahku dan bertanya akan keadaanku. Saya pun menoleh kepadanya dan mengusap setetes air mata yang telah mengalahkanku. Seakan, dia merasakan penderitaanku. Dia berkata, “Bangunlah. Berwudhulah, kemudian shalatlah. Engkau takkan mendapatkan, kecuali kebaikan –dengan izin Allah-.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kalian. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” [Al-Baqarah: 45]

Dadaku pun menjadi lapang, dan Allah menghilangkan kesedihan dariku, Alhamdulillah.

Kerinduan mereka pada dua tanah Haram terus berdendang mengiringi mereka pada segala keadaan. Pedih perjalanan serta bahaya dan prahara laluan telah menjadi ringan.

Tiga orang di antara mereka telah meninggal. Yang terakhir wafat berada di hamparan lautan. Hal menakjubkan dari orang ketiga yang wafat adalah, dia berpesan kepada kedua kawannya,
“Jika kalian berdua mencapai Masjidil Haram, beritahukanlah kepada Allah akan kerinduanku berjumpa dengan-Nya. Mintalah kalian berdua kepada-Nya agar mengumpulkan Saya dan Ibuku bersama Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.”

Syaikh Utsman bertutur,
“Tatkala kawan Kami meninggal, Saya tertimpa gundah gulana hebat dan kesedihan dahsyat. Itulah hal terberat yang Saya jumpai pada perjalananku. (Kawanku) itu adalah orang yang paling sabar dan kuat di antara Kami. Saya telah khawatir meninggal sebelum mendapat nikmat mencapai Masjidil Haram. Saya telah menganggap hari-hari dan saat-saat itu lebih panas daripada bara api.

إِذَا بَرَقْتَ نَحْوَ الْحِجَازِ سِحَابَةٌ
دَعَا الشَّوْقُ مِنِّي بَرْقَهَا الْمُتَطَامِنُ
Jika awan bergelegar di arah Hijaz
Kerinduan yang damai memanggil petirnya

Begitu Kami tiba di Jeddah, Saya sakit luar biasa. Saya pun khawatir meninggal sebelum sempat mencapai Makkah. Saya berwasiat kepada kawanku, ‘Jika Saya meninggal, kafanilah Saya dalam ihramku dan dekatkanlah Saya sesuai kemampuan ke kota Makkah. Barangkali Allah melipatgandakan pahala untukku dan menerimaku sebagai orang-orang shalih.’
Kami pun tinggal di Jeddah beberapa hari, kemudian melanjutkan perjalanan kami ke Makkah. Nafasku berhembus cepat dan kegembiraan memenuhi wajah. Rasa rindu terus menggoyang dan mendorongku hingga kami tiba di Masjidil Haram.”

Syaikh Utsman terdiam sesaat. Beliau menyeka linangan-linangan air matanya yang berderai kemudian bersumpah dengan nama Allah bahwa dia belum pernah melihat kelezatan dalam hidupnya sebagaimana kelezatan yang memenuhi seluruh lapisan hatinya tatkala beliau melihat Ka’bah yang mulia.

Beliau berkisah,
“Tatkala melihat Ka’bah, Saya bersujud syukur kepada Allah. Saya terus menangis, seperti anak-anak kecil yang menangis, karena dahsyatnya keagungan dan kharisma (Ka’bah). Betapa mulianya Baitullah itu dan sungguh penuh keagungan.
Kemudian, Saya mengingat kawan-kawanku yang belum dimudahkan untuk sampai ke Masjidil Haram. Saya pun memuji Allah Ta’âlâ atas nikmat dan keutamaan-Nya kepadaku. Selanjutnya, Saya memohon kepada Allah Subhânahu untuk mencatat (kebaikan) langkah-langkah mereka dan tidak mengharamkan pahala untuk mereka serta mengumpulkan Kita semua pada kedudukan jujur di sisi Allah Yang Berkuasa Lagi Maha Mampu.”

[Disadur dengan sedikit meringkas dari Ar-Rafîq Fî Rihlatil Hajj hal. 107-109]

Kiriman Ust. Abu Ubaidah di Multaqod Duat

🌴.💥🍒✒..✏..✒🍒?..?🌴

Di bawah langit makkah

BAWAH LANGIT MAKKAH…

SEPTEMBER 27, 2015 ADMIN

Ustadz Aan Chandra Thalib, حفظه الله تعالى

“Aku melihat seorang laki-laki, pada saat itu aku tengah berada dikerumunan jamaah haji sedang menunggu rombongan haji disekitar masjidil haram Makkah.

Aku melihat laki-laki itu membeli jus kemasan dan air mineral lalu membagikannya kepada jamaah haji. Setelah habis terbagi, orang itu kembali membelinya dalam jumlah besar lalu membagikannya kepada jamaah. Lelaki itu ditemani dua anak kecil, ia membagikan jus dan air mineral itu ditengah gepulan asap kendaraan dan dibawah terik matahari panas yang menyelimuti kota Makkah hari ini.

Aku takjub melihat lelaki itu. Akupun mencoba membantunya, aku ingin memberi sedikit andil karena melihat perjuangannya. Lelaki tersebut menutup wajahnya dengan simagh (tutup kepala mayoritas orang Saudi). Demi Allah tak seorangpun mengenalinya.

Setelah berlalu beberapa saat, aku mendatanginya lagi, ternyata dia adalah guru kami Syaikh Muhammad bin Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqity.

Subhanallah. ..
Demi Allah yang Maha Agung, Seolah-olah aku sedang bermimpi..

Aku berdiri bersamanya kurang lebih sejam, ia tetap menutup wajahnya dengan simagh, dia mengatakan padaku, “Tak ada yang kekal bagi kita di dunia ini kecuali amal sholeh”

Dia tak beranjak pulang hingga seluruh jus kemasan dan air mineral di kios tempat ia membeli itu habis.

Setelah itu dia berwasiat kepadaku untuk selalu menuntut ilmu dan mengingat Allah.”

Selesai

Kisah diatas ditulis oleh salah seorang muridnya.

Catatan:
Syaikh Muhammad bin Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqity adalah salah seorang anggota perhimpunan ulama besar Kerajaan Saudi Arabia yang juga menjabat sebagai Mufti Madinah Al-Munawarah dan pengajar tetap di Masjid Nabawi As-Syarif.

Begitulah semestinya seorang Alim, ucapan dan perbuatannya selalu seiya sekata. Kisah diatas mengingatkan kita pada kehidupan salafussholeh, dimana mereka berhasil menyelaraskan antara ilmu dan amal, antara ucapan dan perbuatan.
Semoga dapat menjadi cerminan bagi kita.
____________
Penerjemah: ACT El-Gharantaly
Madinah 13 Dzulhijjah 1436 H

Senin, 07 September 2015